Jumat, 30 November 2018

BUKAN SYIAH! DALAM ISLAM SHOLAT MEMANG HANYA 3 WAKTU.

Salamun'alaikum..

       Pada kesempatan kali ini saya akan menjelaskan tentang solat 3 waktu dalam Islam.
       Mayoritas umat manusia yang beragama islam solat 5 waktu 17 rakaat dalam sehari. Tapi apakah kalian berpikir bahwa darimana asal usul solat 5 waktu? Sebagian dari kalian menjawab dari kisah Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW.
       Sebelumnya saya akan memberikan beberapa ayat Qur'an yang berkaitan dengan pemahaman agama. Allah SWT berfirman:

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَّعَدْلاً   ۗ  لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمٰتِهٖ  ۚ  وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
"Dan telah sempurna firman Tuhanmu (Al-Qur'an) dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah firman-Nya. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui."
(QS. Al-An'am 6: Ayat 115)

Dari ayat tersebut kita tahu bahwa Al-Qur'an adalah kitab yang sempurna. Jika kalian berpikir, jika sesuatu telah sempurna apakah perlu adanya tambahan lain? Orang berakal akan menjawab, TIDAK. Jadi, Al-Qur'an telah sempurna yang artinya tidak perlu ada tambahan lain seperti penjelasan hadits atau kitab lainnya. Jika kita bingung terhadap suatu ayat, maka penjelasannya ada di ayat lain. Karena semua ayat Qur'an saling berkaitan, tidak ada yang bentrok.
     Ada yang bilang bahwa jika manusia menafsirkan Al-Qur'an saja setiap orang akan memiliki pengertian yang berbeda-beda. Jelas ini salah, karena manusia adalah makhluk sosialis, kita diajarkan untuk berdiskusi, jika ada kekeliruan maka pelajari ayat-ayat yang berkaitan dengan kekeliruan tersebut, maka tidak akan ada pemikiran yang berbeda-beda.
       Selama ini kita telah ditipu oleh ahli kitab dengan menyelewengkan pengertian ayat, sehingga kita mengikutinya tanpa kita sadari bahwa ternyata yang kita lakukan sehari-hari itu adalah kebohongan besar yang dilakukan oleh ahli kitab seperti pada ayat berikut ini. Allah SWT berfirman:

قُلْ اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ  ۚ  فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْكٰفِرِيْنَ
"Katakanlah (Muhammad), Taatilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 32)

Allah SWT berfirman:

وَاَطِيْعُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
"Dan taatlah kepada Allah dan Rasul (Muhammad), agar kamu diberi rahmat."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 132)

Allah SWT berfirman:

قُلْ اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ ۚ  فَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّمَا عَلَيْهِ  مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَّا حُمِّلْتُمْ ۗ  وَاِنْ تُطِيْعُوْهُ تَهْتَدُوْا ۗ  وَمَا عَلَى  الرَّسُوْلِ اِلَّا الْبَلٰغُ الْمُبِيْنُ
"Katakanlah, Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban rasul (Muhammad) itu hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu hanyalah apa yang dibebankan kepadamu. Jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Kewajiban rasul hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas."
(QS. An-Nur 24: Ayat 54)

Masih banyak ayat lain yang bicara tentang hal ini, yaitu taatlah kepada Allah dan Rasulnya. Maksud dari ayat-ayat tersebut bukanlah taat kepada Allah dan Sunnah rasul. Tapi hanya taat kepada Al-Qur'an. Sebab, tugas seorang rasul hanyalah menyampaikan wahyu Allah, segala perbuatan dan perkataan rasul sesuai dengan Qur'an. Allah bilang seperti itu karena Allah menyampaikan wahyu melalui perantara seorang Rasul. Dengan kita mengikuti ajaran Rasul berarti kita mengikuti ajaran Qur'an karena yang diajarkan Rasul adalah Qur'an bukan hadits. Jadi untuk saat ini yang kita pelajari cukuplah Al-Qur'an sebagaimana rasul mempelajari Qur'an saja.
       Jangan samakan kata Allah dan Rasul itu sebuah benda seperti Meja dan Kursi. Karena tidak satupun ciptaan Allah yang menyerupaiNya. Jika Allah adalah zat ghaib, maka Rasul adalah benda hidup, sedangkan meja dan kursi adalah sama-sama benda mati.

Allah SWT berfirman:

مَا عَلَى الرَّسُوْلِ اِلَّا الْبَلٰغُ  ۗ  وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تُبْدُوْنَ وَمَا تَكْتُمُوْنَ
"Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan (amanat Allah), dan Allah mengetahui apa yang kamu tampakkan dan apa yang kamu sembunyikan."
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 99)

       Tidak mungkin seorang rasul mengada-ngada, tidak mungkin rasul membuat aturan sendiri. Jika kita mengartikan aturan Allah dan Rasul adalah 2 sumber hukum yang berbeda maka akan berbenturan dengan ayat Qur'an tadi bahwa Qur'an telah sempurna. Kalau seperti itu ibarat Allah memiliki tandingan Rasul dalam pembuatan aturan, karena hadits akan lebih banyak dipakai orang karena penjelasannya lebih lengkap dari Qur'an. sedangkan dalam Qur'an tugas rasul hanyalah menyampaikan wahyu Allah. Jika kita berpikir kritis dan skeptis maka kita akan sadar bahwa kebenaran adalah jika kita mengkaji Al-Qur'an tanpa embel-embel hadits dan kitab lainnya yg di luar Qur'an, karena Allah sendiri hanya menyuruh kita untuk memegang 1 sumber hukum yaitu Al-Qur'an seperti pada ayat berikut. Allah SWT berfirman:

وَاتَّبِعُوْۤا اَحْسَنَ  مَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْكُمْ مِّنْ رَّبِّكُمْ مِّنْ قَبْلِ اَنْ يَّأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ  بَغْتَةً وَّاَنْتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ
"Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu (Al-Qur'an) dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu secara mendadak, sedang kamu tidak menyadarinya,"
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 55)

       Dan ingat bahwa Qur'an menjelaskan untuk tidak membeda-bedakan nabi dan rasul. Allah SWT berfirman:

اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَ الْمُؤْمِنُوْنَ  ۗ  كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰٓئِكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ  ۗ  لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهٖ  ۗ  وَقَالُوْا سَمِعْنَا وَاَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَاِلَيْكَ الْمَصِيْرُ
"Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur'an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya. Dan mereka berkata, Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 285)

Bahwa semua rasul itu sama di mata Allah, Rasul itu bukan hanya Muhammad. Tapi mayoritas dari kita terlalu mengagungkan Nabi Muhammad. Sampai kalimat syahadat itu hanya mengakui bahwa nabi Muhammad sebagai rasul. Rasul sendiri artinya utusan, Rasullullah artinya utusan Allah, jadi Rasul itu bisa berupa Manusia dan juga berupa Malaikat. Karena Allah tidak langsung menyampaikan wahyu kepada manusia melainkan melalui perantara malaikat terlebih dahulu.

Di awal kalimat, saya mengucapkan salam yaitu "salamun'alaikum". Salam ini pun ada di dalam Qur'an yaitu. Allah SWT berfirman:

وَاِذَا جَآءَكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاٰيٰتِنَا فَقُلْ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلٰى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ  ۙ  اَنَّهٗ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوْٓءًۢا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْۢ بَعْدِهٖ وَاَصْلَحَ ۙ  فَاَنَّهٗ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"Dan apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, Salamun ‘alaikum (selamat sejahtera untuk kamu). Tuhanmu telah menetapkan sifat kasih sayang pada diri-Nya, (yaitu) barang siapa berbuat kejahatan di antara kamu karena kebodohan, kemudian dia bertobat setelah itu dan memperbaiki diri, maka Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(QS. Al-An'am 6: Ayat 54)

Allah SWT berfirman:

وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ  ۚ  وَعَلَى الْاَعْرَافِ رِجَالٌ يَّعْرِفُوْنَ كُلًّاۢ بِسِيْمٰٮهُمْ  ۚ  وَنَادَوْا اَصْحٰبَ الْجَـنَّةِ اَنْ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ ۗ  لَمْ يَدْخُلُوْهَا وَهُمْ يَطْمَعُوْنَ
"Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada tabir dan di atas A'raf (tempat yang tertinggi) ada orang-orang yang saling mengenal, masing-masing dengan tanda-tandanya. Mereka menyeru penghuni surga, Salamun 'alaikum (salam sejahtera bagimu). Mereka belum dapat masuk, tetapi mereka ingin segera (masuk)."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 46)

Allah SWT berfirman:

الَّذِيْنَ تَتَوَفّٰٮهُمُ الْمَلٰٓئِكَةُ طَيِّبِيْنَ  ۙ  يَقُوْلُوْنَ سَلٰمٌ عَلَيْكُمُ ۙ  ادْخُلُوا الْجَـنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
"(yaitu) orang yang ketika diwafatkan oleh para malaikat dalam keadaan baik, mereka (para malaikat) mengatakan (kepada mereka), Salamun'alaikum, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan."
(QS. An-Nahl 16: Ayat 32)

       Pengucapan salam ini sesuai dengan Qur'an, jadi salam yang selama ini kita ucapkan yaitu assalamu'alaikum adalah salah karena merupakan penyelewengan yang dilakukan ahli kitab dalam hadits, yang seharusnya salamun'alaikum.

Kembali lagi ke topik, mengapa sholat hanya 3 waktu? Pengertian ini bukan tanpa dasar. Tapi semuanya ada di dalam Al-Qur'an. Sholat itu sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim. Semua pengertian tentang Sholat, Ibadah Haji, dan sebagainya sudah Allah jelaskan sejak zaman Nabi Ibrahim, bukan hanya mengikuti Nabi Muhammad tapi Allah pun menyeru agar kita mengikuti apa yang diajarkan Allah kepada nabi ibrahim. 
Allah SWT berfirman:

وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمْنًا  ۗ  وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّى  ۗ  وَعَهِدْنَاۤ اِلٰۤى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّآئِفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ وَالرُّکَّعِ السُّجُوْدِ
"Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka'bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat sholat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ism'ail, Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang itikaf, orang yang rukuk, dan orang yang sujud!"
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 125)

Allah SWT berfirman:

وَجَاهِدُوْا فِى اللّٰهِ حَقَّ جِهَادِهٖ ۗ  هُوَ اجْتَبٰٮكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ ۗ  مِلَّةَ اَبِيْكُمْ اِبْرٰهِيْمَ ۗ  هُوَ سَمّٰٮكُمُ الْمُسْلِمِيْنَ  ۙ  مِنْ قَبْلُ وَفِيْ هٰذَا لِيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ شَهِيْدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُوْنُوْا شُهَدَآءَ عَلَى النَّاسِ  ۖ  فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاعْتَصِمُوْا بِاللّٰهِ ۗ  هُوَ مَوْلٰٮكُمْ ۚ  فَنِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ
"Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur'an) ini agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah sholat dan tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dialah pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong."
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 78)

       Jadi, sholat Nabi Muhammad sama dengan sholat Nabi Ibrahim, karena dari zaman sebelum Nabi Muhammad pun para nabi dan rasul adalah orang-orang muslim, mereka juga sholat walaupun Al-Qur'an belum diturunkan. Jadi Sholat menurut Qur'an berbeda dengan sholat menurut hadits, kalau di hadits solat berasal dari isra mi'raj, padahal di Qur'an sama sekali tidak ada penjelasan tersebut, hanya menjelaskan sholat pada zaman Nabi Ibrahim karena memang sama. Karena waktu solat telah ditentukan waktunya oleh Allah swt. Allah SWT berfirman:

فَاِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَاذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ   ۚ  فَاِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ   ۚ  اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا
"Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan sholat(mu), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk, dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka laksanakanlah sholat itu (sebagaimana biasa). Sungguh, sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 103)

       Jadi semua sholat itu adalah Wajib dan waktunya telah ditentukan oleh Allah sejak zaman Nabi Ibrahim.
       Artinya hadits itu buatan manusia, umat manusia telah dibohongi ahli kitab. Kalau kita berpikir, masa iya nabi Muhammad mengada-ngada? Masa iya nabi Muhammad membuat aturan sendiri di luar Qur'an?, atau masa iya Allah tidak memasukkan kisah isra mi'raj ke dalam Qur'an padahal ini peristiwa penting? Di Qur'an sendiri hanya ada kisah Al-Isra yaitu perjalanan Nabi Musa ke masjidil Aqsa selama 40 hari 40 malam untuk membangun masjid dan tempat turunnya kitab taurat. Allah SWT berfirman:

سُبْحٰنَ الَّذِيْۤ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَا   ۗ  اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
"Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat."
(QS. Al-Isra' 17: Ayat 1)

وَاٰتَيْنَا مُوْسَى الْـكِتٰبَ وَ جَعَلْنٰهُ هُدًى لِّبَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ اَ لَّا تَتَّخِذُوْا مِنْ دُوْنِيْ وَكِيْلًا  
"Dan Kami berikan kepada Musa, Kitab (Taurat) dan Kami jadikannya petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman), Janganlah kamu mengambil pelindung selain Aku."
(QS. Al-Isra' 17: Ayat 2)

Allah SWT berfirman:

وَوٰعَدْنَا مُوْسٰى ثَلٰثِيْنَ لَيْلَةً وَّاَتْمَمْنٰهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيْقَاتُ رَبِّهٖۤ اَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً   ۚ  وَقَالَ مُوْسٰى لِاَخِيْهِ هٰرُوْنَ اخْلُفْنِيْ فِيْ قَوْمِيْ وَاَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيْلَ الْمُفْسِدِيْنَ
"Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa (memberikan Taurat) tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan Musa berkata kepada saudaranya (yaitu) Harun, Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah (dirimu dan kaummu), dan janganlah engkau mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 142)

       Terlihat jelas bahwa kisah Isra atau perjalanan ini adalah kisah Nabi Musa ke masjidil Aqsa untuk membangun masjid dan menerima Kitab Taurat, bukan kisah Nabi Muhammad yang naik turun langit ke-7 naik buroq terus nawar sholat dari 50 waktu jadi 5 waktu.
       Kalau kita perhatikan masa iya Allah tidak mengetahui waktu solat yang cocok untuk ciptaannya? Masa iya Allah mengalah terhadap ciptaannya? Masa iya Nabi membantah perintah Allah yang ingin 50 waktu? Dan anehnya setelah di tawar jadi 5 waktu, tapi malah di tambah sholat2 lain seperti solat dhuha, solat qobliyah, solat ba'diyah, solat tahiyatul masjid, solat taraweh, solat witir, solat tahajud, dsb? Lagi pula yang katanya solat sunnah tersebut tidak ada satupun penjelasan tentang sholat-sholat itu di Al-Qur'an. Allah hanya menyuruh kepada umat manusia untuk melaksanakan sholat wajib aja, bukan solat sunnah. Ada surah ad-dhuha namun disurah tersebut tidak ada perintah sholat dhuha. Waktu Tahajud pun memang ada di Qur'an, tapi tidak ada perintah sholat. Hanya ada perintah untuk bertasbih dan mentadabur Al-Qur'an, Allah SWT berfirman:

وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَ  ۖ   عَسٰۤى اَنْ يَّبْعَـثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا
"Dan pada sebagian malam, lakukanlah tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."
(QS. Al-Isra' 17: Ayat 79)

Terlihat bahwa di ayatnya tidak ada kata sholat hanya fatahajjad atau tahajud, sebagai ibadah tambahan yaitu dengan bertasbih di malam hari dan mentadabur Al-Qur'an.
Allah SWT berfirman:

فَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوْعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوْبِهَا   ۚ  وَمِنْ اٰنَاۤىٴِ الَّيْلِ فَسَبِّحْ وَاَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضٰى
"Maka sabarlah engkau (Muhammad) atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum matahari terbit, dan sebelum terbenam; dan bertasbihlah (pula) pada waktu tengah malam dan di ujung siang hari, agar engkau merasa tenang."
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 130)

Allah SWT berfirman:

قُمِ الَّيْلَ اِلَّا قَلِيْلًا 
"Bangunlah pada malam hari, kecuali sebagian kecil,"
(QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 2)

Allah SWT berfirman:

اِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ اَنَّكَ تَقُوْمُ اَدْنٰى مِنْ ثُلُثَيِ الَّيْلِ وَ نِصْفَهٗ وَثُلُثَهٗ وَطَآئِفَةٌ مِّنَ الَّذِيْنَ مَعَكَ ۗ  وَاللّٰهُ يُقَدِّرُ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۗ  عَلِمَ اَنْ لَّنْ تُحْصُوْهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ فَاقْرَءُوْا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْاٰنِ ۗ  عَلِمَ اَنْ سَيَكُوْنُ مِنْكُمْ مَّرْضٰى ۙ  وَاٰخَرُوْنَ يَضْرِبُوْنَ فِى الْاَرْضِ يَبْتَغُوْنَ مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ ۙ  وَاٰخَرُوْنَ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ   ۖ  فَاقْرَءُوْا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ  ۙ  وَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاَقْرِضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا  ۗ  وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَنْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِ هُوَ خَيْرًا وَّاَعْظَمَ اَجْرًا  ۗ  وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰهَ  ۗ  اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
"Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau (Muhammad) bangun kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam, atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu. Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an; Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit, dan yang lain berjalan di bumi mencari sebagian karunia Allah; dan yang lain berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
(QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 20)

___________
Lalu, darimana dalil sholat 3 waktu?

       Jelas sekali sholat 3 waktu identik dengan syi'ah, tapi sekali lagi ajaran ini bukanlah syi'ah ataupun ingkar sunnah rasul. Karena kami beriman kepada semua nabi dan rasul Allah, kami hanya mengikuti Al-Qur'an sesuai dengan ajaran yang Rasul ajarkan yaitu Al-Qur'an. 3 waktu sendiri kami pelajari, kami berdiskusi tentang ayat Allah, karena Allah tidak secara langsung menyebut bahwa sholat ada 3 waktu tapi kami punya dasar hukumnya yaitu,

Allah SWT berfirman:

حَافِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَالصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ  قٰنِتِيْنَ
"Peliharalah semua sholat dan sholat wusta. Dan laksanakanlah (sholat) karena Allah dengan khusyuk."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 238)

Allah SWT berfirman:

وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَـفًا مِّنَ الَّيْلِ  ۗ  اِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِ  ۗ  ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ 
"Dan laksanakanlah sholat diantara kedua tepi siang dan pada bagian permulaan malam. Perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)."
(QS. Hud 11: Ayat 114)

Terlihat jelas bahwa yang dimaksud kedua tepi siang yaitu di pertengahan hari atau solat wusto. Karena wusto artinya pertengahan, solat di pertengahan waktu. Dan waktu tengah hari tersebut disebut dzhuhur jadi wusto mengarah pada nama sholat dan dzhuhur mengarah pada waktu solat wusto. Allah SWT berfirman:

وَلَـهُ الْحَمْدُ فِيْ السَّمٰوٰتِ  وَالْاَرْضِ وَعَشِيًّا وَّحِيْنَ تُظْهِرُوْنَ
"dan segala puji bagi-Nya baik di langit, di bumi, pada malam hari maupun pada waktu zuhur (tengah hari)."
(QS. Ar-Rum 30: Ayat 18)

Di QS. Hud 11: Ayat 114 juga menyatakan laksanakan sholat di bagian permulaan malam, permulaan malam ini adalah waktu awal pelaksanaan sholat Isya, waktu sholat isya sendiri adalah dari awal permulaan gelapnya malam sampai waktu menjelang fajar. Jarak waktu solat wusto adalah dimulai dari awal matahari tergelincir yaitu tepat ditengah hari sampai awal permulaan gelap malam atau awal menjelang sholat Isya. Seperti pada ayat berikut. Allah SWT berfirman:

اَقِمِ الصَّلٰوةَ لِدُلُوْكِ الشَّمْسِ اِلٰى غَسَقِ الَّيْلِ وَقُرْاٰنَ الْـفَجْرِ ۗ  اِنَّ قُرْاٰنَ الْـفَجْرِ كَانَ مَشْهُوْدًا
"Laksanakanlah sholat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula sholat) fajar. Sungguh, sholat fajar itu disaksikan."
(QS. Al-Isra' 17: Ayat 78)

Dari ayat itu menjelaskan waktu sholat wusto dan sholat fajar, tapi dari kebanyakan kita menyebutnya sholat subuh, harusnya sholat fajar. Sholat fajar dilaksanakan pada waktu fajar saat mulai terlihatnya perbedaan benang putih dan benang hitam di langit. Seperti pada ayat berikut, Allah SWT berfirman:

اُحِلَّ لَـکُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَآئِكُمْ ۗ  هُنَّ لِبَاسٌ لَّـكُمْ وَاَنْـتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ  ۗ  عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّکُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَکُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ  فَالْــئٰنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا مَا کَتَبَ اللّٰهُ لَـكُمْ  ۗ  وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَـكُمُ الْخَـيْطُ الْاَبْيَضُ مِنَ الْخَـيْطِ الْاَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ  ۖ  ثُمَّ اَتِمُّوا الصِّيَامَ اِلَى الَّيْلِ ۚ  وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْـتُمْ عٰكِفُوْنَ  ۙ  فِى الْمَسٰجِدِ  ۗ  تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَا  ۗ  كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
"Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka ketika kamu beritikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 187)

       Jadi kesimpulannya sholat itu memang hanya 3 waktu, yaitu Sholat Fajar, Sholat Wustho, dan Sholat Isya.

       Tidak sampai disitu, penjelasan rakaat sholat pun ada di dalam Al-Qur'an.

Allah SWT berfirman:

وَاِذَا كُنْتَ فِيْهِمْ فَاَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلٰوةَ فَلْتَقُمْ طَآئِفَةٌ مِّنْهُمْ مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوْۤا اَسْلِحَتَهُمْ ۗ  فَاِذَا سَجَدُوْا فَلْيَكُوْنُوْا مِنْ وَّرَآئِكُمْ ۖ  وَلْتَأْتِ طَآئِفَةٌ اُخْرٰى لَمْ يُصَلُّوْا فَلْيُصَلُّوْا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوْا حِذْرَهُمْ وَاَسْلِحَتَهُمْ  ۚ  وَدَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْ تَغْفُلُوْنَ عَنْ اَسْلِحَتِكُمْ وَاَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيْلُوْنَ عَلَيْكُمْ مَّيْلَةً وَّاحِدَةً    ۗ  وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ اِنْ كَانَ بِكُمْ اَ ذًى مِّنْ مَّطَرٍ اَوْ كُنْـتُمْ مَّرْضٰۤى اَنْ تَضَعُوْۤا اَسْلِحَتَكُمْ  ۚ  وَ خُذُوْا حِذْرَكُمْ  ۗ  اِنَّ اللّٰهَ اَعَدَّ لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابًا مُّهِيْنًا
"Dan apabila engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu engkau hendak melaksanakan sholat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (sholat) besertamu dan menyandang senjata mereka, kemudian apabila mereka (yang sholat besertamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat) maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang lain yang belum sholat, lalu mereka sholat denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata mereka. Orang-orang kafir ingin agar kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu sekaligus. Dan tidak mengapa kamu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat suatu kesusahan karena hujan atau karena kamu sakit, dan bersiap siagalah kamu. Sungguh, Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 102)

Dari ayat tersebut terlihat jelas bahwa itu merupakan sholat dalam keadaan perang melawan orang-orang kafir. Namun sholat itu hanya dilakukan 1 rakaat oleh sebagian ma'mum dan 1 rakaat lagi oleh sebagian ma'mum yang tadinya sedang berjaga. Artinya si imam sholat ini melakukan sholat 2 rakaat. Yang berarti bahwa sholat dalam keadaan aman dilakukan sebanyak 2 rakaat penuh baik oleh imam maupun ma'mum. Tapi jika dalam keadaan tidak aman atau perang maka yang menjalankan sholat 2 rakaat penuh hanya si imam sholat sedangkan ma'mumnya hanya 1 rakaat bergantian. Nah sholat tidak aman ini disebut juga mengqashar solat yaitu mengurangi rakaat sholat dari 2 rakaat menjadi 1 rakaat khusus bagi ma'mum untuk menjaga area dari serangan musuh orang-orang kafir. Seperti pada ayat berikut. Allah SWT berfirman:

وَاِذَا ضَرَبْتُمْ فِى الْاَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ اَنْ تَقْصُرُوْا مِنَ الصَّلٰوةِ    ۖ  اِنْ خِفْتُمْ اَنْ يَّفْتِنَكُمُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا   ۗ  اِنَّ الْـكٰفِرِيْنَ كَانُوْا لَـكُمْ عَدُوًّا مُّبِيْنًا
"Dan apabila kamu bepergian di Bumi, maka tidaklah berdosa kamu mengqasar sholat jika kamu takut diserang orang kafir. Sesungguhnya orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu."
(QS. An-Nisa' 4: Ayat 101)

       Jadi, kesimpulannya terlihat jelas bahwa tiap sholat itu rakaatnya sama yaitu sebanyak 2 rakaat. Jadi dalam sehari sholat yang diwajibkan oleh Allah adalah sholat 3 waktu dengan total 6 rakaat.

Mungkin cukup sampai disini dulu pembahasan materi dari saya, mohon maaf apabila terdapat kesalahan penulisan, karena disini kita sama-sama masih terus belajar memahami Al-Qur'an karena Allah SWT berfirman:

وَلَوْ اَنَّ مَا فِى الْاَرْضِ مِنْ شَجَرَةٍ اَقْلَامٌ وَّالْبَحْرُ يَمُدُّهٗ مِنْۢ بَعْدِهٖ سَبْعَةُ اَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمٰتُ اللّٰهِ ۗ  اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
"Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana."
(QS. Luqman 31: Ayat 27)

Jadi Al-Qur'an itu tidak akan ada habisnya untuk dibahas. Dan belajar pun tidak akan ada habisnya sampai kita tua sekalipun, karena ilmu pengetahuan terus berkembang dari waktu ke waktu. Sekian dari saya.
Salamun'alaikum..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar